Tampilkan postingan dengan label Bagus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bagus. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Februari 2016

[Movie] Psycho (1960) | Ripiew!


Psycho sebagai film Alfred Hitchcock pertama yang saya tonton berhasil memberikan bukti nyata bahwa Hitchcock memang benar seorang sutradara jenius dan pantas digelari sebagai 'Master of Suspense'. Karyanya masih dikenang sampai sekarang, walau sudah 30 tahun lebih ia meninggalkan dunia ini.

Film bertemakan thriller ini sendiri bercerita mengenai pertemuan antara seorang sekretaris, Marion Crane (Janet Leigh), yang bersembunyi di sebuah motel setelah melakukan pencurian dari bosnya, dan sang pemilik motel yang kesepian, Norman Bates (Anthony Perkins).

Sinopsis yang singkat bisa jadi pilihan yang tepat. Jangan sampai kenikmatan kita menonton film ini berkurang hanya karena kita sudah mengetahui jalan ceritanya. Soalnya, saya sendiri mengalami bagaimana gak enaknya nonton film ini, gara-gara secara tidak sengaja membaca spoiler dari film ini. Dan untuk lanjutan review kali ini akan cukup banyak spoiler bertebaran, karena cukup sulit menulis ulasan film ini yang benar-benar lepas dari yang namanya spoiler. So, bagi yang belum nonton, nonton dulu aja ya hehe Worthed

SPOILER ALERT
!!!


Alfred Hitchcock benar-benar mengambil keputusan yang tepat dalam menggunakan efek hitam putih di film ini. Efek hitam putih ditambah berbagai adegan thrilling membuat film ini benar-benar menunjukan kengerian yang hebat, juga mengurangi tingkat kesadisan film ini. Siapa movie lovers yang tidak tahu, atau minimal pernah mendengar mengenai adegan shower yang legendaris itu? Intensitas ketegangannya bisa begitu tinggi. Padahal, seharusnya adegan tersebut hanyalah adegan pembunuhan biasa. FYI, adegan dengan waktu 45 detik tersebut sampai memerlukan 70 kali take untuk mendapatkan hasil yang sempurna.

Scoring musik yang digubah oleh Bernard Herrmann di film ini juga berhasil memberikan efek thrill yang kuat. "Screaming Violins" buatannya sangatlah khas dan cukup sering dipakai di berbagai film thriller di masa mendatang. Momen yang dipakai juga tepat, sehingga tidak terkesan asal-asalan dan berantakan.

Psycho tentu memiliki twist yang ajib didalamnya. Dari awal kita akan menerka-nerka siapa sebenarnya psycho di film ini. Permainan psikologis dimana adanya kepribadian ganda mungkin akan terlihat basi dimasa sekarang. Tapi, harus diakui Alfred Hitchcock berhasil menggunakan konsep yang tidak biasa ini dijaman itu. Sayangnya, saya termasuk orang tidak beruntung, karena saya pernah sekilas membaca ending dari film ini. Suatu penyesalan karena sedari awal saya sudah seperti mengetahui ending film ini. Walau begitu, sebenarnya film ini masih bisa dan enak diikuti oleh saya sendiri.




Peran Vera Miles sebagai Lila Crane yang merupakan adik dari Marion Crane (Janet Leigh), bersama John Gavin sebagai suami Marion, yang mulai mengambil peran lebih di pertengahan film juga tidak boleh diremehkan. Perasaan khawatir dan ingin tahu akan hilangnya keberadaan Marion Crane begitu terasa seiring kehadiran mereka. 

Akting Anthony Perkins disini (terutama di akhir film) pun benar-benar berhasil menunjukan aura kegilaaan sebagai seorang psikopat. Perkins pun cukup berhasil dalam menyembunyikan identitas aslinya sepanjang film berlangsung. Ia dapat meyakinkan penonton bahwa ibunya masih hidup dan merupakan tersangka utama dari pembunuhan yang terjadi.

Secara keseluruhan, saya menyukai film ini, bagaimana intensitas ketegangannya, twist-twist kecil didalamnya, dan penampilan apik para pemainnya. Sayang sekali, spoiler yang saya dapatkan membuat film spesial ini menjadi kurang spesial. Walau begitu, saya mengakui bahwa Alfred Hitchcock, sebagai dalang di balik kehebatan film ini memang pantas disebut sebagai sutradara jenius dalam hal membuat film-film "mengerikan".

Rating Ripiew!
✮✮✮
"A boy's best friend is his mother."

Rabu, 03 Februari 2016

[Movie] The Lobster (2015) | Ripiew!

The Lobster

Jujur aja, saya cukup bingung saat melihat poster film ini untuk pertama kali. Walau begitu, semua keheranan akan langsung terjawab dengan mudah setelah kita menonton film ini. Baik poster maupun isi filmnya sendiri sama-sama absurd.  Beberapa orang bahkan menyebutkan, bahwa film ini adalah film yang pantas mendpat gelar film paling aneh di tahun 2015 lalu.

Film bahasa inggris pertama yang dibesut sutradara Yorgos Lanthimos  ini berlatar di suatu dunia dystopian di mana para lajang atau jomblo atau orang-orang yang tidak memiliki pasangan, diwajibkan memasuki sebuah hotel karantina dan diberi waktu 45 hari untuk menemukan pasangan, dan akhirnya tinggal di kota-kota layaknya kehidupan seorang manusia pada umumnya. Jika gagal menemukan pasangan pada jangka waktu yang ditetapkan, maka orang tersebut akan dijadikan hewan. 

Untuk menambah jangka waktu yang diberikan, para single ini akan memburu para single liar di hutan, dan akan mendapatkan tambahan waktu sesuai dengan jumlah single yang ditangkap. Ya, single liar. Aneh? Memang. Di sini, para jomblo liar adalah sekelompok orang yang tidak memiliki pasangan dan engan masuk ke karantina tersebut.

Film ini sendiri bercerita mengenai seorang pria bernama David (Coling Farrell) yang tengah menjalani karantina dan berusaha menemukan pasangan, sebelum di ubah menjadi seekor lobster.


Premis cerita aneh, kaya akan dark comedy yang kental, dan sinematografi yang indah adalah beberapa hal yang bisa membuat saya menyukai film ini. Yorgos Lanthimos yang sebelumnya lebih dikenal melalui salah satu filmnya yang berjudul "Dogtooth", berhasil mengeksekusi script brilian dengan sangat baik. Tone dingin dan disturbing dari "dogtooth" pun terasa di film ini.

Selain itu, film ini sarat akan metafora-metafora kehidupan yang berhamburan sepanjang film ini bergulir. Metaforanya mungkin sulit dipahami, tetapi akan begitu terasa jika kita mencoba untuk meraba-raba dengan mengaitkannya denga kehidupan di masyarakat dunia ini. Beberapa dark comedy di film ini pun cenderung melewati batas normal, sehingga cukup sulit ditertawakan. 


Film ini juga memberikan kejutan-kejutan kecil yang cukup membuat film ini menarik di ikuti. Saya beberapa kali terkejut kecil melihat adegan-adegan konyol yang sebenarnya dibalut dengan komedi gelap di dalamnya. Penggambaran suasana dystopian yang dibangun juga cukup memberikan sentuhan tersendiri. Jelas berbeda dengan konsep dystopian yang ditawarkan film-film seperti Hunger Games Series, Divergent, dan lainnya.

Endingnya? Bagi saya sendiri, ending bisa dibilang cukup absurd, dan bener-bener nyentil. Lebih baik anda tonton sendiri saja, biar lebih paham. (Beberapa teman mengatakan endingya gak ngenakin, tapi ini soal selera juga sih."

Overall, film ini wajib ditonton oleh penimat film-film dark comedy dan bagi orang yang mau merasakan kembali sensasi sama seperti menonton film "dogtooth" dengan rasa intense yang lebih rendah dan metafora yang lebih gila.

Cast: Colin Farrell, Rachel Weisz, Lea Seydoux, Jessica Barden, Olivia Colman, Ashley Jensen, Ariane Labed, Angeliki Papoulia, John C. Reilly, Michael Smiley, Ben Whishaw
Director: Yorgos Lanthimos
Screenwriter:Yorgos Lanthimos, Efthimis Filippou
Producers: Ed Guiney, Lee Magiday, Ceci Dempsey, Yorgos Lanthimos
Executive producers:Andrew Lowe, Tessa Ross, Sam Lavender

No rating, 118 minutes

Rating Ripiew!
✮✮✮ 
"We dance alone. That's why we only play electronic music."