![]() |
Jujur aja, saya cukup bingung saat melihat poster film ini untuk pertama kali. Walau begitu, semua keheranan akan langsung terjawab dengan mudah setelah kita menonton film ini. Baik poster maupun isi filmnya sendiri sama-sama absurd. Beberapa orang bahkan menyebutkan, bahwa film ini adalah film yang pantas mendpat gelar film paling aneh di tahun 2015 lalu.
Film bahasa inggris pertama yang dibesut sutradara Yorgos Lanthimos ini berlatar di suatu dunia dystopian di mana para lajang atau jomblo atau orang-orang yang tidak memiliki pasangan, diwajibkan memasuki sebuah hotel karantina dan diberi waktu 45 hari untuk menemukan pasangan, dan akhirnya tinggal di kota-kota layaknya kehidupan seorang manusia pada umumnya. Jika gagal menemukan pasangan pada jangka waktu yang ditetapkan, maka orang tersebut akan dijadikan hewan.
Untuk menambah jangka waktu yang diberikan, para single ini akan memburu para single liar di hutan, dan akan mendapatkan tambahan waktu sesuai dengan jumlah single yang ditangkap. Ya, single liar. Aneh? Memang. Di sini, para jomblo liar adalah sekelompok orang yang tidak memiliki pasangan dan engan masuk ke karantina tersebut.
Film ini sendiri bercerita mengenai seorang pria bernama David (Coling Farrell) yang tengah menjalani karantina dan berusaha menemukan pasangan, sebelum di ubah menjadi seekor lobster.
Premis cerita aneh, kaya akan dark comedy yang kental, dan sinematografi yang indah adalah beberapa hal yang bisa membuat saya menyukai film ini. Yorgos Lanthimos yang sebelumnya lebih dikenal melalui salah satu filmnya yang berjudul "Dogtooth", berhasil mengeksekusi script brilian dengan sangat baik. Tone dingin dan disturbing dari "dogtooth" pun terasa di film ini.
Selain itu, film ini sarat akan metafora-metafora kehidupan yang berhamburan sepanjang film ini bergulir. Metaforanya mungkin sulit dipahami, tetapi akan begitu terasa jika kita mencoba untuk meraba-raba dengan mengaitkannya denga kehidupan di masyarakat dunia ini. Beberapa dark comedy di film ini pun cenderung melewati batas normal, sehingga cukup sulit ditertawakan.
Film ini juga memberikan kejutan-kejutan kecil yang cukup membuat film ini menarik di ikuti. Saya beberapa kali terkejut kecil melihat adegan-adegan konyol yang sebenarnya dibalut dengan komedi gelap di dalamnya. Penggambaran suasana dystopian yang dibangun juga cukup memberikan sentuhan tersendiri. Jelas berbeda dengan konsep dystopian yang ditawarkan film-film seperti Hunger Games Series, Divergent, dan lainnya.
Endingnya? Bagi saya sendiri, ending bisa dibilang cukup absurd, dan bener-bener nyentil. Lebih baik anda tonton sendiri saja, biar lebih paham. (Beberapa teman mengatakan endingya gak ngenakin, tapi ini soal selera juga sih."
Overall, film ini wajib ditonton oleh penimat film-film dark comedy dan bagi orang yang mau merasakan kembali sensasi sama seperti menonton film "dogtooth" dengan rasa intense yang lebih rendah dan metafora yang lebih gila.
Cast: Colin Farrell, Rachel Weisz, Lea Seydoux, Jessica Barden, Olivia Colman, Ashley Jensen, Ariane Labed, Angeliki Papoulia, John C. Reilly, Michael Smiley, Ben Whishaw
Director: Yorgos Lanthimos
Screenwriter:Yorgos Lanthimos, Efthimis Filippou
Producers: Ed Guiney, Lee Magiday, Ceci Dempsey, Yorgos Lanthimos
Executive producers:Andrew Lowe, Tessa Ross, Sam Lavender
No rating, 118 minutes
✮✮✮✮
"We dance alone. That's why we only play electronic music."



Tidak ada komentar:
Posting Komentar